Orang-orang yang Terjebak
Beberapa hari yang lalu temanku bercerita tentang mantan rekan kerjanya yang telah memiliki seorang kekasih begitu lugas dan sangat jujur, dimana disalah satu SMS yang dikirimkan pada temanku mengatakan jika temanku membuka lowongan untuk calon istri maka jangan lupa memberitahunya. Temanku tertawa membaca tulisannya itu. Dan apa yang diceritakan teman itu membuatku ingat tentang sebuah teori saat menonton acara televisi yang pembawa acaranya 2 orang lelaki bujang. Insomnia. Keduanya berkata jika keadaan semakin malam, terutama saat memasuki kawasan pagi dini hari maka saat itulah keadaan perempuan yang paling labil, malah seorang diantaranya berkata “diajak selingkuh juga mau”. Maka aku berkata pada temanku “wah, kalau ngobrolnya lebih malam, kayanya itu perempuan mau di ajak selingkuh”. Mendengar kalimatku ia jawab dengan “alah, kalau dia sih siang juga mau kalau tak ajak selingkuh”. Ya, aku lupa jika perempuan itu memang menyukai temanku, jadi siang atau pun malam rasanya sama saja.
Maka teori yang kudengar saat menjadi orang-orang Insomnia tak terlalu kuanggap serius, namun tak juga menampiknya, apalagi mungkin hal itu bisa juga benar, tapi mungkin tak pada semua orang. Sebagian mungkin iya, atau malah itu terlalu besar.
Temanku awalnya memang sangt datar menanggapi apa yang kuucap tentang teori tersebut, namun beberapa saat kemudiab ia mulai terlihat mengingat-ingat, lalu berkata kepadaku;
“iya, dulu pernah waktu SMS’an malam-malam sama dia, aku tanya apakah dia masih sayang kepadaku atau tidak? Dan ia menjawab masih sayang.”
Mendengar rangkaian kalimat yang temanku ucap, aku tak langsung menghubungkan keadaan tersebut dengan teori yang pernah kudengar dari dua bujang Insomnia. Memang hal yang temanku ceritakan lumayan janggal, apalagi seseorang yang ia sebut “dia” adalah mantan kekasih yang sekarang telah lama menikah dan memiliki seorang anak.
Aku berfikir bukan hanya karena keadaan tengah malam maka seseorang menjadi lupa apa yang semestinya atau senormalnya orang kebanyakan lakukan, apakah mungkin seseorang yang telah bersuami masih bisa begitu luwes berkata “aku masih sayang kamu” pada seseorang lain? ya walau seseorang itu memang mantan yang telah begitu setia namun mungkin tak sungguh mengerti dirinya.
Aku hanya berkata pada temanku jika keadaan itu muncul karena sebuah pandangan, yang mungkin tak bisa dikatakan keliru, namun bisa dikatakan terlalu tergesa. Kadang kebanyakan orang memudahkan apa yang ada dihatinya, dan tak pernah berfikir apa yang pernah terjalani lama bisa mengendap dan menjadi wujud yang biasa saja esok. “ia lupa jika kebiasaan lama tak segampang itu untuk dilupakan hanya dengan pilihan menikah, seharusnya ia mengkondisikan terlebih dahulu hatinya, atau lebih tepatnya ia tahu dimana tempat mantannya harus berada sebelum memilih untuk menikah dengan orang lain”, ucapku. Dan temanku tak banyak berkomentar, yang terlihat hanya ia yang begitu menghayati hisapan rokok putihnya.
Ya, aku biasa menggunakan kata “mengkondisikan” tiap kali menemukan keadaan yang menurutku sangat ganjil, mungkin benar melupakan adalah hal yang paling tidak mungkin untuk manusia lakukan, namun manusia pasti bisa meletakan sebuah kenangan pada tempat yang menurutnya aman dan takan mengganggu kehidupannya esok.
Sebenarnya pandangan ini datang bukan hanya dari sebuah pemikiran yang sangat dalam akan apa saja yang bisa aku lihat atau temukan dalam buku. Pandangan ini datang saat melihat seseorang yang entah apa yang ada dipikiranya bisa dengan mudah mengucap hal mesra pada seseorang yang bukan kekasihnya. Aku tak begitu tahu bagaimana seseorang yang bisa berfikir seperti itu bisa meletakan dirinya pada dua keadaan yang mungkin berbarengan, dan pada keduanya ia bisa mengucap kata mesra yang begitu manis. Apakah ada yang salah dengan pikirannya?
Memandang itu, aku hanya berkata dalam hati “orang-orang yang terjebak”. Ya orang-orang yang belum begitu mampu untuk bisa mengkondidikan hatinya pada satu keadaan yang satu, yang hanya satu.
Mungkin mengkondisikan hati tak semudah seperti mengkondisikan hal lain yang ada didunia, terlebih lagi hati adalah sebentuk wujud yang sangat fleksibel dan penuh kompromi. Jadi tetap saja bukan hal yang mudah dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sulit bukan berarti tidak mungkin.
Menurutku ‘orang-orang yang terjebak’ berbeda dengan orang-orang yang mudah diajak selingkuh, karena kekeliruan mereka datang bukan karena “gampang”, namun cenderung oleh “kenangan”.
Sedangkan tentangku sendiri apakah termasuk orang-orang yang terjebak atau bukan…….? Entahlah, mungkin iya, mungkin juga tidak.. let it flow, masih Bujang ini.. Hahahaha
Sekian dan terima kasih.
Yellow Moon
Malam ini seperti biasa kuhabiskan dengan duduk sendirian pada kursi bambu yang ada di balkon kostku, memandangi Bintang yang terlihat jarang, ya malam ini bulan dalam bentuknya yang sempurna, Purnama. Aku masih memandang kosong, mungkin dalam hati mulai ada doa-doa aneh tentang aku yang terharap melihat sebutir Bintang jatuh, dan dalam lesatannya yang cepat ada permohonan yang terucap. Namun beberapa menit tak jua kulihat satu Bintang yang melesat, kosong tak ada sesuatu yang menarik.
Beberapa puluh mernit berlalu, aku pun mulai mengkhayalkan hal-hal lain yang beberapa bulan ini lebih banyak melintasai pikiranku, kadang dalam gurauanku dengan diri sendiri ‘tidak lelahkan perempuan itu terus berjalan-jalan dalam pikiranku”. Awalnya aku hanya terdiam setelah mengucapnya, namun seiring berlalunya detik-detik aku pun mulai tertawa ringan. “makin gila aku ini” ucapku lagi.
Malam makin melarut, aku masih duduk sendirian dikursi itu tanpa ada satu pun ramai yang mengusik. Memang terkadang kudengar teriakan teman-teman kost yang menitip pada seorang teman lain yang hendak keluar untuk dibelikan es teh di Burjo yang tak jauh dari kost kami. Atau ada yang sedang pusing saat mengerjakan Tugas Akhir, maka tak heran dari dalam kamarnya suara nyaring musik tak terhingga, awalnya terdengar mengganggu, namun karena sudah terbiasa maka menjadi biasa.
Malam melarut, sedikit rasa bosan mulai menghinggap, lalu tanpa pikir panjang aku pun melangkah menuju kamarku untuk mengambil handphon yang kuletakan diatas tempat tidur dan juga head set yang kugantung didekat cermin. Namun karena malas memutar menuju pintu masuk yang berada di lorong kost, maka aku menuju jendela kamar yang memang menghadap langsung ke balkon. Kubuka dan langsung saja masuk untuk mengambil benda yang kusebutkan tadi. Setelah mengambil keduanya aku kembali duduk di kursi bambu lagi, namun kali ini aku tak sendiri karena sekarang ditemani oleh suara penyiar dari radio yang berasal dari handphonku, lumayan untuk sedikit memberi rasa di malamku yang hambar.
Sambil mendengar suara penyiar yang sedang membacakan request dari pendengar lain, pandangku menjelajah angkasa, menatap gugus bintang yang muram karena cahaya Purnama yang makin menyamarkan. Rasi Scropio, rasi yang paling jelas bisa dilihat dari tempatku berada, tentu saja selain rasi layang-layang yang mulai terlihat menggelincir kearah barat. Malam ini kudengarkan lagu dari -Padi- dengan lagunya yang berjudul ‘Sang Penghibur’, ya stasiun radio yang sedang kudengarkan siarannya ini sedang memutar lagu-lagu dari ranah pertiwi Indonesia. Aku cukup bisa menikmati musik malam ini, terlebih lagi saat menemui rasa jenuh dan bosan seperti saat ini, dan aku pun makin terhanyut dalam lantunan suara dari vokalis. “Kuhanya pemimpi kecil yang berangan untuk merubah nasibnya”, bunyi salah satu bait liriknya.
Lamunanku makin masuk lebih dalam saat makin banyak lantunan lagu-lagu Bangsaku yang berirama slow dan sendu, rasanya aku memang terbius dalam dingin malam dan lamunan tentang seorang perempuan yang beberapa puluh menit sebelumnya berlarian di pikiranku, ya walau mungkin ia tak sedikitpun memikirkan keberadaanku.
Ya, dia, seseorang perempuan yang terlalu sering kupikirkan, serasa mengajakku melayang walau sebenarnya hanya lamunan. Entah sudah berapa juta detik kuhabiskan hanya untuk mengingat betapa manisnya ia saat tersenyum, senyum biasa yang selalu menggoda untuk membuatku setia menunggu 2 tahun yang lalu. Namun malam ini lain, aku tak sedang memikirkan ia yang telah tertinggal dimasa lalu, aku sedang memikirkan ia yang selama beberapa bulan tak pernah kuketahui kabarnya, diamanakah ia sekarang?.
Sebenarnya selama beberapa bulan lalu bisa saja aku menghubunginya untuk membuatnya tetap hidup dan bisa kurasakan, namun aku memilih menjauh darinya untuk sementara, apalagi tiap mengingatnya rasanya otak sadarku makin terasa rusak. Selama memilih menjauh dari bayangnya, bukan semakin jauh ia ada dibayanganku, malah ia makin terasa jelas, terasa nyata ada dipikiranku, ini bisa dibuktikan dengan semakin seringnya ia ada di mimpiku. Makin tersiksa ternyata. Selain dalam mimpi, pikiranku tentanya makin banyak kutulis dalam buku-buku usang yang biasa kugunakan untuk mencoret-coret, dan sampai malam ini telah masuk ke buku yang ketiga. Cerita tak jelas, namun entah kenapa lama-lama aku mulai terbiasa untuk selalu menulis tentangnya sebelum hendak menutup mata.
Rasa bosan pun mulai menjalar, kubuka handphonku, lalu kupilih gambar yang berbentuk surat. Tulis-hapus-tulis-hapus itu yang kulakukan dalam keraguan akan keinginan untuk mengiriminya pesan pendek, dan akhirnya kutulis kalimat sederhana semodel menanyakan kabar. Namun biar telah kutulis kalimat yang sepertinya layak dan sopan, tetap saja aku masih belum terlalu yakin untuk kukirimkan padanya. Tiga bulan tanpa pernah berbagi kabar rasanya aneh jika tanpa ada angin ribut atau angin puyuh coba mengajaknya berbincang, terlebih lagi aku sangat mengerti dengan sifatnya yang selalu berfikir serba serius dan tak pernah basa-basi. Beberapa menit berlalu tak jua kukirimkan padanya, masih kupandangi dengan penuh rasa ragu akan “apakah pesan pendekku ini akan ia balas?”, namun semua pertanyaan dan juga ragu coba kubuang, kuberanikan untuk menekan “Ok”. Dan ok, aku mengiriminya pesan pendek saat jam di hanphonku menunjukan pukul 8 lewat beberapa menit.
Setelah kukirimkan pesan itu, sering kupandangi layar handphon hanya untuk memastikan apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Ya setelah pesan itu kukirimkan tingkahku tak lagi normal dan biasa, padahal kalau otakku sedikit di gunakan tanpa perlu setia memandangi layar pun aku pasti tahu kalau ada pesan yang masuk, toh aku memasang nada dengan volume maksimal kalau ada telfon atau SMS masuk, maklum kupingku agak Swasta. Namun karena rasio itu tenggelam dalam rasa deg-degan maka tetap saja kupandangi layar handphon itu berulang dan berulang.
Beberapa puluh menit berlalu, tak jua ada balasan dari perempuan yang dulu pernah kusebut “cerewer” gara-gara ia terlalu banyak komentar, terlebih lagi komentar yang sering ia kemukakan terlalu pedas terdengar. Jaman dimana aku baru pertama kali berkenalan denganya ia terlihat kaku sekali, mungkin karena aku tak terlalu bisa bergaul dengan perempuan, apalagi sebagian dari teman dekatku pernah berkata sambil tertawa “hal yang paling ditakuti Deni di dunia ini bukan Setan tapi Perempuan”. Mendengar sindiran itu aku hanya bisa tertawa kesal, walau sebenarnya memang itu kenyataanya. Dia yang hanya berkata saat memang perlu, namun saat tak perlu ia pun bisa banyak bicara, terlebih lagi kalau sedang mengomentari cara kerjaku dan juga beberapa teman lain. Namun itulah dia, dan karena hal-hal itulah maka aku sering menyebutnya “cerewet”, tapi hanya dalam hati.
Setelah penantianku akan balasan dari dirinya hampir memakan satu jam seorang teman datang membawa secangkir kopi dan juga sebatang rokok filter yang sedang dihisap lalu langsung saja duduk disebelahku. Melihat ia langsung berada disebelahku, salah satu dari speker head set kulepaskan agar jika ia berkata sesuatu padaku maka bisa mendengarnya. Setelah duduk temanku hanya diam, sepertinya bisa kulihat jelas sebuah tulisan di jidatnya “sedang pusing”. Melihat ia yang hanya diam langsung saja aku bertanya padanya tentang gerangan apa yang membuatnya ikut menjadi manusia penganguran sepertiku malam ini. Ia hanya menjawab ringan, sedang pusing dengan Tugas akhir, jadi coba menikmati udara malam sebentar guna merefress ulang otak. Saat temanku datang aku pun mulai berbincang dengannya, tentang apa saja, namun lebih banyak ia yang bercerita kepadaku. Ya ia mulai bercerita tentang apa saja, awalnya memang membahas tentang Tugas Akhir, namun seiring udara malam yang makin terasa dingin ia pun mulai bercerita tentang cintanya yang selalu pasang surut tak jelas. Kadang semakin dingin malam maka akan semakin mellow seseorang.
Aku mendengar beberapa keluhan darinya, tentang kekasihnya yang seperti inilah, itulah, dan aku hanya tersenyum karena tak hendak berkomentar, karena aku hanya pendengar yang baik, bukan komentator ulung. Ya obrolan dengan temanku itu membuatku lupa jika beberapa saat sebelumnya aku adalah penanti yang baik dimana tiap saat selalu memandang layar handphon dengan harapan ada sebuah pesan masuk.
Serius, aku makin serius mendengar apa yang temanku ceritakan, malah kali ini bukan hanya tentang kekasihnya yang sekarang, namun kekasihnya jaman SMA pun ia ceritakan. Mendengar makin banyak kisah dan problema yang ia hadapi aku pun berkelakar padanya “wah ceritamu keren, besok-besok tak bikin buku kayanya mantap”. Mendengar perkataanku gurat serius diwajahnya berganti tawa, dan kami berdua tertawa.
Dan, suara handphonku berbunyi, aku terkejut karena sesaat tadi aku lupa jika sebelum temanku datang aku adalah penanti. Kubuka dengan perasaan dad dig duk tak jelas, ya ialah perempuan pertama yang bisa membuatku salah tingkah tiap kali menerima SMS, padahal yang ia tulis hanya kata-kata biasa, kata-kata seorang teman kepada temannya. Pengharapan yang kelewat tinggi membuatku kadang semakin tak waras.
Kubaca dengan seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya, maklum khawatir salah baca, apalagi waktu baca nemu kata ‘cinta’, pasti ada yang salah dengan mata. Pada balasannya kali ini ia berkata jika kabarnya sangat baik dan malam ini ia sedang kelelahan karena baru saja pulang dari luar kota, dan ia berkata jika hendak berbincang dengannya dilain waktu saja. Membaca itu aku senang, tentu saja selain karena pesanku ia balas, adalah karena ia pun menawariku untuk berbincang lain waktu, setidaknya malam ini ia tak sedatar jaman dulu yang kadang membuatku kesal.
Ya, ia cenderung membalas pesanku dengan ekspresi yang datar dan sangat tak menarik, namun yang membuatku kesal adalah ketika seorang temanku yang lain yang juga mengenalnya bisa menggoda lewat SMS dan perempuan itu menanggapi godaan tersebut, sedangkan saat kutulis sedikit nada memancing langsung saja tak kutemui lagi balasan SMS darinya. Cemburu tepatnya. Sebenarnya kasus seperti ini kusadari saat coba mengulang cerita kami dimasa lalu, ya masa dimana aku sedang panas-panasnya terbakar gelora asmara, perempuan itu telah tahu sejak lama jika aku menyukainya, maka sejak itulah ia tak sedikitpun terlihat memberiku rasa harap. Mungkin bukan karena enggan, namun akan menjadi salah kalau ternyata terlalu cepat memberi harapan pada seseorang yang belum sungguh sangat dikenal, terlebih lagi tampangku kala itu memang tampang yang tak meyakinkan, apalagi di jidatku ada sebuah tulisan yang berbunyi “Pemalas”..
Setelah kukirimkan pesan balasan padanya tentang aku yang mengiyakan apa yang ia minta jika malam ini ia tak bisa kuajak berbincang. Rasa lega datang, seperti hujanan air dingin mengguyur tubuhku yang sesaat tadi dehidrasi karena kering dalam penantian. Senyumku mengembang kembali, aku bisa lebih relek dimalam itu, memandang puas gemintang dan juga Purnama yang terlihat jelas dari tempatku duduk bersama temanku. Menikmati begitu sumringanya hatiku langsung kuganti stasiun radio yang sedang kudengar, Geronimo FM. menikmati musik alternatif manca dan juga Slow Rock dimana saat itu juga kudengar lagu dari MR.BIG “To Be With You”.
Setelah rasa lega itu datang aku kembali fokus mendengar cerita-cerita temanku yang kian banyak saja anak cabangnya, maklum pohon boleh cuma dua tapi rantingnya entah sebanyak apa, nian tak terhitung.
Malam makin larut, dan sepertinya kami tak hendak menyelesaikan dengan segera apa yang sedang kami perbincangkan, malah kami mulai banyak berkelakar tentang hal-hal yang sebagian orang lebih cenderung menangisinya walau telah lampau lewat, tapi bagi kami yang berprinsip “penderitaan itu ada untuk ditertawai, jika bukan saat itu mungkin nanti, dan pasti bisa kita tertawai”. Hal yang paling sering kami lakukan adalah saat salah satu dari kami bercerita tentang sakitnya ditinggalkan cinta, langsung saja ada yang menyambar “sakit kaya di cubit Gorila”, lalu kami tertawa terbahak-bahak.
Setelah obrolan dua anak bujang dirasa cukup, apalagi malam memang makin larut, dan teman yang sebelumnya begitu terlihat lesu akhirnya kembali bersemangat untuk kembali mengerjakan Tugas Akhir yang sebelumnya ia tinggalakan. Semangat, ya dalam semangat itu ia pun mengucap permisi untuk meninggalkanku sendiri seperti sebelumnya karena ia hendak kembali ke kamarnya. Dan aku pun kembali sendiri.
Bulan yang kuning makin terlihat jelas ada didepan pandanganku, dan rasai-rasi yang sebelumnya tegak lurus didepanku pun mulai benar merapat pada sisi barat bumi. Dinginnya malam, selesainya penantian akan seseorang yang kudoakan untuk berkenan membalas pesanku yang sangat pendek itu. Malam yang cerah, sedikit embun mulai hinggap dilayar handphonku, lembab pada layar kacanya.
“Kamu” kata hatiku, ya sekali lagi kucoba meresapi bayangnya pada malam yang sebentar lagi akan selesai. Melihat sekitarku yang begitu senyap, apalagi beberapa kamar yang bisa kulihat dari tempatku berada telah mati lampunya, maka aku pun beranjak dari kusrsi bambu yang panjang ini, melangkah menuju kamar dan menulis tentangnya sekali lagi sebelum tidur pada buku harian usangku.
-bersambung-
Seraut Wajah di Genangan Waktu*
Untuk seseorang.
Ya untuk seseorang yang tak pernah kulihat keberadaanya, hanya dari kata-kata aku mengenalnya, pun saat kucoba untuk bisa menatap wajahnya, ia sedang ada diluar kota.
Kumengenalnya pada bulan terakhir ditahun 2008. Pagi menjelang siang kuaktifkan ebuddy di hp’ku, dan seseorang menyapaku, tepatnya membalas pertanyaan ku beberapa hari sebelumnya tentang siapakah gerangan yang meng’add ID YM’ku. Kami berkenalan, dan yang paling membuatku bangga dan senang adalah ia yang perempuan. Pertanyaan tentang gender itu paling awal kutanyakan, maklum khawatir salah perkiraan seperti saat aku berkenalan dengan seseorang yang memiliki ID seperti ID perempuan yang ternyata cowo tulen.
Selain hal-hal pribadi semisal nama, asli mana, dan kuliah dimana? Kutanyakan padanya juga dari mana ia mengetahui alamat YMku? Membaca yang kutanyakan padanya ia berkata padaku jika ia menyukai puisi yang kukirimkan pada sebuah stasiun radio tempat aku dulu menimba ilmu. Membaca jawabanya hatiku sangat sumringan senang, wajar saja karena yang ngefans tulisanku adalah perempuan.
Sejak perjumpaan pertamaku dengannya, dimana ia juga meninggalkan alamat blog yang ia miliki. Aku mulai bisa menganggapnya seorang teman.
Kami tak terlalu sering berbincang, karena jam ia online belum bisa kubaca, walau sebenarnya ia lebih banyak kujumpai saat malam, saat ia berhotspot ria di kampusnya UNY.
Ada yang masih kuingat jelas tentang bahasan yang aku perbincangkan denganya, yaitu tentang cintanya yang baru saja kandas. Saat kujumpai ia saat itu adalah ia yang sedang patah hati, katanya padaku “dia mutusin aku, dan kabarnya dia mau nikah”. Dan saat kukunjungi alamat blog pribadinya kudapati beberapa tulisan yang menggambarkan jika ia memang sakit. Hujan itu kehilangan, itu yang ia tulis pada salah satu baris di tulisannya.
Waktuku dan waktunya bergerak, tak banyak cerita yang dapat kuceritakan tentang seperti apa sebenarnya dirinya. Setiap kali kami berbincang lewat YM atau pun pesan pendek tak ada bahasan yang serius, malah sekedarnya yang bisa kami kami katakan. Intinya dia ini irit banget jika sedang bercerita. Namun dari sikapnya yang irit ini ada yang paling unik untuk kuingat, dia ini pernah berkata padaku saat aku bertanya padanya apakah ia memiliki situs jejaring, “waste of time” jawabnya yang sok inggris walau sebenarnya ia memang anak jurusan bahasa inggris. Jarang orang yang tak terhanyut dengan trend jaman.
Satu kebiasaan yang rasanya selalu menjadi cirinya. Setiap kali ia mempost sebuah tulisan blognya ia tak lupa mengabariku, “bro aku baru posting, comen-comen ya”. Ya pesan seperti itu lebih sering kudapatkan darinya dari pada pesan “apa kabar bro?”.
“Bro”, itulah panggilanku olehnya, sebenarnya aku sudah beberapa kali memintanya untuk tak memanggilku seperti itu, karena membayangkan seorang perempuan berjilbab menyebut kata itu padaku kesannya ‘macho’ dan sangat pejantan, namun ia tak peduli dengan saranku tersebut dan tetap saja memanggilku seperti itu hingga sekarang.
Sudah setahun lebih aku mengenalnya dan rasanya ingin sekali melihat seperti apa dirinya. Pernah saat aku mengunjungi Jogja kukabari ia, ingin bertemu tepatnya, namun sayang ia sedang berada di luar kota, dan yang paling mengesalkan saat aku hendak pulang kampung dia bertanya padaku apakah aku masih ada di Jogja? Pertanyaanya kali itu kujawab “tidak, malah mau pulang”. Dan ia membalas “kok cepet sekali”. Ya selama di Jogja pada bulan November ada 3 orang yang ingin kutemui, hanya dia yang tak bisa kujumpai.
Oh iya ada satu bagian yang rasanya ia betah sekali menyindirku, ia senang sekali membaca tulisan-tulisan yang menggambarkan tentang rasa putus asa akan sebuah cinta lama. Tiap kali ada tulisan yang memiliki penggambaran jelas dengan derita cinta yang tak bergerak itu ia tertawa dan berkata “deni bangettttttttttt”.
Sekian saja ceritaku tentang seorang teman yang entah siapa, karena aku hanya bisa mengira-ira tentang sepertia apa dirinya. Ya seorang perempuan asal Wonosari yang pernah kutanyakan padanya apakah didaerahnya kesulitan air atau tidak? maklum karena daerah Wonosari termasuk daerah yang paling kesulitan air bersih saat musim kemarau dari pada daerah lain di Jogja. Tanah yang tersusun dari batu kapur membuat air sulit didapat, pun jika ada sangat dalam.
Wah, rasanya sekian saja tulisanku tentang seorang teman yang selalu kuanggap memiliki bakat untuk menulis, karena itu ia kuanggap saingan terberat. Dan bicara tentang tulisan ada satu pertanyaannya padaku “kapan bukunya terbit, kalu udah jadi kirim ya?”.
Isna, sepenggal nama itu ia tergambarkan dalam memoriku.
*sub judul novel Puthut EA “Cinta tak pernah tepat waktu”
Tentang lagu Tentang Dia
Sebuah lagu telah selesai kudengarkan, maka sekali lagi aku melangkah menjauh dari tempat lagu itu kudengar.
Sebulan sudah kulewati apa yang kukira takan pernah ada lagi. Dia kembali, tak bercerita banyak tentang apa yang ia rasakan sebenarnya di hati, namun ia berkata tentang rasa rindu akan kenangan masa lalu yang lama tak pernah terbahas bersamaku. Saat ia pertama kali bertanya tentang ini itu kepadaku, tak terlalu kuanggap serius, maklum karena aku berfikir ini hanyalah keisengan saja. Namun ada yang mulai sering kudengar karena ia mulai banyak bercerita, tanpa aku meminta ia bercerita tentang cintanya.
Sekali lagi kudengar ia bercerita tentang cinta yang ia miliki, dan tak sangat munafik aku cemburu mendengarnya. Biasanya aku tak sangat tertarik untuk mendengar kegelisahan akan kekasihnya, namun karena sudah cukup lama aku tak bersua dengannya maka kudengar saja ceritanya kali ini. Cerita ini diawali dengan gelisah, tanya dan juga tagis malam sebelumnya yang membuat kedua matanya menjadi merah dan terlihat bengkak seperti biasanya ia menangis. Aku mendengar, sesekali memberinya jawaban saat ia bertanya, namun aku tak hendak masuk terlalu dalam, karena dunianya bukan lagi seperti dulu saat kukenal ia dengan dekat.
Setelah menjawab beberapa tanya yang ia tanyakan kusarankan padanya untuk bertanya juga pada seseorang lain yang ia anggap lebih objektif dalam berpendapat. Membaca apa yang kusarankan padanya ia hanya berkata jika akulah seseorang yang paling ia percaya, mendengar itu sangat miris dan terlihat ‘inilah ironi itu’.
Semua bergerak, berjalan, dan kutemui ia yang memang tetap sama. Kadang saat melihat apa yang ada didirinya mulai mengungkit tanya yang pernah ada dulu. “sadarkan engkau jika aku ini bukanlah kekasih yang memilikimu, kenapa engkau fasih sekali memanggilku itu?” Namun tanya lama itu tak pernah terungkap saat ia ada untuk kuajak berbincang.
Percakapan-perakapan yang banyak membuatku mengenang dan tertawa, betapa bayangnya tak pernah meninggalkanku, terus saja melayang dan berlarian saat aku melamun. Indah namun ada perih yang jelas dan sedang menungguku, seperti kata Khalil Gibran jika cinta itu menyimpan pedang dibalik sayapnya yang indah.
Dan akhir itu pun datang, aku tak hendak berkata tentang rasa sayang yang sama, melihatnya menjauh sekali lagi tetap saja menyakitkan walau sadarku tahu jika saat seperti ini akan tiba jika yang terkasih kembali. Namun rasanya ada yang ingin kutanyakan padanya sebelum aku menutup bagian ini, sebuah tanya tentang ‘apakah yang engkau rasakan saat menanggilku “papi” dikala engkau bercerita tentang “abi”, sungguh itu hal teraneh yang pernah kudengar?’
Malam ini kutulis, dan kuselesaikan apa yang pernah ada sambil berucap sedikit tentang “sayang kurasa bahagia itu belum sungguh engkau temukan, mungkin benar rasa syukur dapat menemukan muara dari bahagia itu, namun adakah bahagia jika rasa dihatimu pun masih ragu untuk engkau terima, cinta yang baik itu 1 bukan 3 seperti saat ini”.
-tamat-
Senandungku tentang seorang teman
Kisahnya telah selesai, bagian kelima dari kisah cintanya.
Malam itu aku datang kerumahnya setelah ia mengirimiku pesan pendek, ia sedang risau tentang rasa hati yang ia rasa kacau sekali.
Malam itu ia buka dengan cerita tentang perempuan yang telah sedia menjadi kekasihnya mengajukan pernyataan padanya jika hubungan yang terjalin tak lagi bisa dipertahankan, perbedaan yang terlalu banyak, dan juga jarak yang membentang kurang lebih 150 KM membuatnya tak lagi kuat untuk dijaga. Ia begitu sendu saat meniti kata-kata yang akan ia katakan padaku untuk menjelaskan tentang begitu rumitnya pilihan yang ia jalani, namun tak membuatnya sampai menangis, jika sedih jelas tergambar.
Entah sudah berapa kali kudengar ia berkeluh kesah tentang cintanya kali ini, pernah dulu kukatakan padanya jika ia mesti tahu kapan ia harus berhenti mempertahankan prinsip jika melepaskan tak mudah untuknya. Awalnya ia memang setuju, namun seiring waktu prinsip itu tak bergeming, menjalani prosesi hati dengan banyaknya kompromi membuatnya terus melangkah.
Kisahnya kali ini lebih rumit dari kisah-kisah sebelumnya yang pernah ia ceritakan padaku, tak hanya tentang karakter yang jauh berbeda, namun ia pun terbentur dengan pendapat lain yang membuatnya sangat bingung, kedua orang tuanya tak sangat setuju dengan cinta yang ia pilih sekarang. Namun biarpun ada penolakan dari kedua orang tuanya tetap saja cinta itu ia jalani walau dengan sembunyi-sembunyi dan juga pengawasan.
Ia berkata kepadaku yang menurutnya pendengar yang baik tentang penolakan dari keluarga ia bisa lalui asalakan ada usaha dari keduanya untuk mewujudkan jika cinta mereka itu kuat. Apa mau dikata, keyakinanya hancur luluh berantakan kala ia sadar jika kekasihnya tak terlalu beringin tentang kebersamaan yang erat, jarak yang jauh, komunikasi yang terbatas, membuat semuanya makin kacau dan remuk untuk tetap terlihat indah seperti pertama kali ada.
Sekarang tak ada yang ia tahan lagi, kisah itu telah selesai karena memang tak lagi ada kata sepakat seperti dulu, jalan terbaik bagi keduanya bukanlah untuk bersama, namun hanya untuk mengenal dan saling mengenalkan warna lain dari dunia.
Malam, setelah dirasa cukup apa yang terceritakan, apalagi jam telah menunjukan pukul 00 dini hari, percakapan pun kami akhiri. Cinta itu memag tak selalu seindah dongeng-dongeng di Novel, luka nyata itu sangat perih, sakit dan kadang meninggalkan umpatan. Dalam hisapan rokok filter terakhirnya aku berkata padanya jika sudah malam, dan kami tutup dengan langkah yang saling menjauh.
Malam itu embun turun, dingin dan basah. Cinta tak jauh berbeda seperti malam. Selalu ada yang ‘basah’ dan juga sisi yang indah, seperti embun dan juga kumpulan bintang dilangit.
-tamat-
Luka
Ia melangkah menuju suatu tujuan yang ragu untuk tetap ia yakini, namun yang tersisa membuatnya tetap melangkah.
Hari itu galau merasuk dalam hingga kedasar nurani, tak ada sedikitpun rasa tenang tentang cinta yang ia jalani itu sebentar lagi akan selesai. Logikanya mati, ia tak peduli jika kekasih yang belum sempat ia putuskan itu telah bertunangan dengan seorang lain tanpa sepengetahuannya. Namun rasa kadang melebihi logika maka ia melangkah menuju rumah yang tercinta.
Duduk lama, berbincang dengan orang-orang yang dulu biasa ia sapa, namun yang dinanti tak jua datang, mungkin menghindari pertemuan karena rasa sadar akan pengkhianatan, atau sedang berbelanja untuk persiapan nikahan, tak ada yang tau. Waktu tak terasa cepat berlalu, maka ia pun memilih meninggalkan rumah itu dengan rasa hati yang berkecamuk tak jelas.
Rumah dan jalan rasa besar jauh berjarak, normalnya setiap orang akan memilih menungku agkutan desa yang lewat, namun ia memilih berjalan kaki demi sebuah keyakinan jika seseorang yang ia tunggu melihatnya berjalan kaki maka akan memilih berhenti dan menemuinya. Namun sampai setibanya di jalan raya tak ada seorang pun yang menyapanya, hanya ada kekosongan. Sakit, sakit, dan sangat sakit, rasa yang ada saat ia menjauh dari rumah sang terkasih.
Kaki yang pegal, berjalan entah berapa kilometer hanya untuk sebuah harapan yang sebenarnya tak jelas bentuknya, namun demi kejelasan status maka harus ada yang dikorbankan, walau sebenarnya terlihat bodoh, namun untuknya kala itu berjalan adalah hal yang paling logis untuk bisa berharap menemui sang kekasih.
Mungkin ada yag bertanya “kenapa tak menghubunginya terlebih dahulu, atau mengabari sang kekasih jika ia ada dirumahnya?”. Maaf semua nomor yang biasanya hidup itu melayang entah kemana, ada yang sedang menghindari masalah karena enggan disebut tersangka. Tersangka itu identik dengan penjahat.
Cinta itu berakhir tanpa ada satupun kesempatan untuk saling berucap, mengatung hingga akhir dalam kenanganya yang sakit.
-tamat-
Pantomim
Sebuah kisah tentang aku dan kamu, berjalan diantara rasa yang entah apa itu, tak ada, dan kosong. Sangat manis, hingga membuatku terperanga kaku saat sadar jika apa yang pernah kita lewati akan berakhir, karena memang harus berakhir. Jika pun tetap berlanjut maka itu hal tersalah yang pernah kulakukan, dan aku tak ingin engkau menangis dalam keraguanmu.
Saat sadar akhir itu akan datang, sangat tak percaya, namun terpaksa harus percaya. Aku diam memandangi pertunjukan aneh yang kulihat. Sangat tega kamu memintaku untuk tetap ada di duniamu, yang kutahu saat itu engkau bisa berkata mesra pada seseorang selain aku. Sayang, romantisme itu menyakitkan. Aku mengerang, ada yang terasa tertusuk, tak kukenal, namun karena itulah aku sadar jika ada yang kutakutkan tentangmu.
Namun aku tak bisa menghalangimu untuk bahagia, karena aku pun pernah berharap jika suatu kala kamu bisa berhenti menangis, dan bisa menemukan bahu dimana padanya kamu bisa meletakan semua letih itu. Aku tak ingin, saat kita saling sapa selalu kutemui engkau yang menangis sendiri.
Waktu berjalan, aku coba membuatmu tertahan. Namun sesaat sadar jika aku pun hendak meninggalkanmu. Aku tak bisa melangkah kearahmu saat itu karena ada yang tak ada dari diriku, dan tak sekalipun kuingin membuat seorang pun kecewa atas cinta yang terpercayakan padaku. Aku frustasi, kalut dan semua hal terasa menyesakan, hingga terkadang berharap pengertianmu untuk memberiku ruang bernafas tanpa aku memintanya.
Dan hari itupun tiba, kamu mulai terlihat berbeda. Hari itu, hari dimana akupun merencanakan untuk pergi meninggalkanmu, kulihat sapamu yang kaku, kita telah berbeda dari yang terlihat biasanya. Setengah dari diriku pun bersyukur jika akhirnya engkau yang meninggalkanku, bukan aku. Ya, kamu tak mungkin ada lagi diduniaku, ya kamu tak akan pernah berkata dan menyapa dengan kalimat mesra ataupun biasa, hidup kita saat itu telah berbeda. Kamu telah punya hati yang harus di jaga, kamu telah menemukan pelabuhan untuk merapatkan semua tentang kamu, dan itu lebih nyata dari semua kata manis yang pernah kuucap padamu.
Namun satu pesan kutemukan di pagiku, pesan aneh yang kukira takan pernah ada lagi. “Apa kamu ingin membuatku merasa terhina?” Saat itu aku tak ingin melihat sapa seperti itu, aku bukan tokoh figuran dalam darama romantismu yang baru. Aku ingin kamu tahu, melihatmu tak lagi sendiri saja cukup untuk membuatku terdiam lama tak percaya, dan kamu masih berucap kata itu dengan santainya. Aku punya hati yang bisa merasa walau perkenalan kita ini hanya sebatas maya. Pada postinganmu kamu berkata tentang engkau yang menangis, dan rasanya aku tahu apa yang membuatmu menangis. Tapi aku harus melakukan itu, tolong sekali saja mengerti karena bukan hanya kamu,aku pun hampir menangis.
Kurasa gerak waktu makin lambat, lebih banyak diam sekarang, termenung. Coba kukeluarkan apa yang tertahan dalam hati, menulisnya dalam kata-kata, tulisan tentang kamu, tentang seseorang yang pernah berkata padaku “kamu malaikatku”. Kamu membacanya, meninggalkan sebuah pesan senyum di dalam tulisanku. Aku lega karena kamu tak sungguh menangis lama, dan aku pun merasa jika hari ini kita bisa menjalani prosesi perpisahan dengan hati yang damai. Namun ternyata tidak, kamu terlihat makin sering menampakan diri, dan aku pun benar tak bisa mengendalikan apa yang pernah kuucap padamu, jika apa yang kita lakukan ini salah.
Sebulan berjalan, kukira kita akan menjadi yang selesai, namun kulihat kita tak juga berubah, kita masih saja sama walau sedikit berbeda, dan itu hampir menbuatku gila. Tolong aku makin tak bisa mengendalikan apa yang ada padaku, biarpun kecil rasa yang kurasakan padamu, namun kamu satu2nya ‘seseorang’ yang ada dihati saat ini. Alasan aku tetap ada di sini, mungkin karena aku mulai jatuh hati, namun sekuat tenaga tak kugerakan cinta itu kearahmu, maaf aku tak selengkap diriku dalam mayamu.
Sayang, mungkin kamu tak mengerti dengan apa yang akan kumaksud. Kita berdua hanyalah sedang bermain dalam sebuah pertunjukan pantomim, dimana imajinasi adalah ukuran terhebat untuk menghidupkan suatu kejadian. Sayang hidup yang benar itu ada yang bisa disentuh, didengar, dilihat, dan dicium. Sayang cinta yang baik adalah cinta yang nyata. Mungkin aku bisa sangat lama menawarimu pertunjukan pantomomku, namun apakah itu akan membuatmu bisa tertawa lama?, Pantomim itu hanya berisi ekspresi kosong, tak ada yang bisa dilihat atau pun diingat, cinta pun sesuatu yang abstrak disini, tergambar hanya lewat degupan hati yang semu. Cinta yang nyata bisa terhadir dalam setangkai mawar ataupun senyuman penuh kasih yang meringankan derita.
Sayang pantomim itu kosong, tak ada sama sekali kekidupan yang bisa engkau impikan maju, pantomim itu hanya ekspresi manusia yang imajinatif tentang alam khayalan, alam yang engkau katakan sempurna ada padaku. Sayang apa kamu tahu derita dari imajinasi yang kosong? Itu kegilaan yang membuatku hampir “sakit”.
Sayang pertunjukan pantomin ini harus selesai, aku tak bisa meneruskanya lebih lama. Imajinasiku mungkin tak terasa hilang, namun aku tak lagi bisa membangun dunia yang sama seperti dulu, karena ada beberapa hal yang kubatasi. Jadi ijinkan aku melangkah dalam imajinasiku yang sendiri, kali ini aku tak mengajakmu bukan karena tak ingin, tapi apakah kamu mampu hidup dalam ketidaadaan? Terlebih lagi sebagian dari kesadaran yang kumiliki mulai merasakan apa yang kusebut “lelah”. Jadi untuk apa lagi aku ada disini, diruang, dimana kamu mungkin akan melupakanku. Bukan tak percaya dengan kalimat “Yang ditiada itu kamu ada”, namun bukankah yang tiada itu lebih mudah dilupakan dari pada yang ada.?
Sayang, setiap kulihat senyummu yang mulai sering mengembang.. Terasa ada yang makin tak benar disini, mungkin aku bisa berkata “persetan dengan norma”, namun untuk apa aku melakukan itu jika tak memiliki mimpi yang berlanjut. Jadi saat kulihat senyummu, rasanya ada yang tersadar, jika tak seharusnya aku masih ada disini. Jadi bisakah engkau meninggalkanku tanpa aku memintanya? karena saat ku berusaha untuk menjauh, maaf aku tak bisa. Mungkin benar aku telah terlambat untuk melangkah pergi darimu. Pertunjukan pantomim kita harus selesai Sayang.
Bagian 1, Tentang Sapa, Suka dan Terpesona
Kuingat bulan itu, akhir bulan Februari aku melihatnya, pada bulan itu kulihat sebuah bulletin ada diantara jajaran bulletin yang sebenarnya tak sungguh kukenal orang-orang yang menyebarkanya. Namun untuk satu bulletin darinya, entah apa yang membuatku membukanya, padahal aku sangat tak tertarik untuk melihat apa yang tertulis, karena awal-awal pertama kali kubuat Friendster aku tahu jika bulletin hanyalah sebuah keisengan yang sangat tak penting. Namun bulletin darinya tetap saja kubuka, kubaca, namun tak lagi ingat isinya, maklum sudah sangat lama.
Dari perkenalan yang hanya sekilas itu, aku pun mulai membuka profil perempuan tersebut. Yang membuatku sangat terkejut “ya Tuhan, manis bener kaya Gita Gutawa”, itu bisa dimengerti karena primary foto yang terpajang di layar Friendsternya tersebut wajah close up yang sangat close up, jadi tak sangat jelas apakah ia sangat cantik, cantik, medium, standar. Namun setelah melihat fotonya yang lain hatiku berucap “wow”.
Obrolan kami yang pertama itu tentang mantan kekasihnya yang mengiriminya lagu “kembalilah kasih” dari GiGi. Dan setelah kuingat-ingat ia bercerita tetang kekasih yang telah menemaninya selama satu tahun setengah ini menduakannya, tapi ia juga bercerita kalau hubungan antara ia dan kekasihnya sudah tak ada rasa, karena itu kadang ia sangat cuek dengan pacarnya, dan hasilnya bisa dilihat. Ia diduakan. Aku tak tahu apakah ia menangis kala itu, toh aku sendiri sangat-sangat-sangat tidak mengenalnya, namun jika sedih mungkin iya.
Kembali tentang lagu yang masih sempat kekasihnya itu kirimkan padanya, aku hanya berucap padanya, “ia ingin kamu kembali”. Aku tak ingat apa responnya kala itu, terlebih lagi aku sangat malas untuk mengingat, terlebih lagi membuka postingan-postingan kami kala itu, maaf itu sudah dua tahun yang lalu.
Mengingatnya kala itu hanyalah ia sangat menyukai puisi, itu kuketahui saat kukirimkan satu puisi yang kurasa bagus, bukan karyaku, puisi itu kutemukan kala aku bersurfing ria di dunia maya, puisi karya Jack Effendi. Ia berkomentar tentang puisi yang kukirimkan itu dengan menulis “Dulu seandaina coQ yg tlis puisi ne bwt ak,wlaupun cma nggombal..Ak pasti sneng bgt,huhu..”.
Kami mulai sering berbincang, tapi tak sangat sering hanya saja selalu kutemukan balasan darinya di layar Friendsterku atas tanyaku padanya, tapi semuanya masihlah biasa dan datar. Yang kuingat dari aku yang kala itu, aku yang terpesona oleh manisnya wajah yang Tuhan lekatkan padanya, mungkin aku memang mudah jatuh hati atau bagaimana, hanya saja kala itu aku selalu menanti pertanyaanku ia balas hingga saat itu tiba.
Bulan Maret telah menjelang datang, beberapa minggu setelah kami pertama kali bertatap muka. Ia hilang entah kemana, tak lagi ada pesan yang ia tulis di Friendterku. Iseng ku cek jejaringnya, dan ternyata ia tak lagi sendiri, di sebuah tepi tepat disebelah foto primary, status “in Relationship” tertulis jelas. Aku menarik nafas, dalam, dan tersenyum sambil berkata “sudah selesai ternyata, padahal ingin sekali bisa lebih mengenal, sayang”. Dan sejak saat itu tak pernah lagi kutunggu pesan atau hal lain dari dirinya, karena tak lagi sendiri kupikir tak lagi penting untuk menjadi sang penanti yang setia, hanya buang-buang waktu kata hati sambil coba lebih dalam menikmati senyumku.
Setelah kumengenal perempuan ini, aku coba tak mengingatnya lagi, kuanggap sebagai sebuah dongeng singkat yang kurasa sedikit nikmat dan bisa menambah warnaku. Maaf waktu itu kepalaku masih sangat penuh dengan temana KKN’ku yang begitu kuidolakan, tergila-gila tepatnya, tapi tak menjadikanku gila. Kutulis beberapa cerita tentang perempuan itu pada catatan harianku di bulan April. Tak bercerita tentang kekaguman, hanya saja membuatku ingat apa yang pernah dikatakan seorang penyiar radio favoritku “sebaiknya kita jangan terlalu dekat menatap seseorang, kadang itu membuat kita tak bisa melihat yang selainnya. Maka tidak ada salahnya kita mundur beberapa langkah, karena kita takan pernah tahu siapa saja yang ada di belakang seseorang yang begitu kita pandang dekat tersebut”. Dan dengan kehadiran perempuan itu aku sadar banyak keindahan yang tersebar dimuka bumi, tentu saja selain keindahan yang Tuhan lukis pada temanku yang selalu berwajah serius namun manis. Kisahku tentangnya, bagian pertama.
Bagian 2. Tengah Malam dan sebuah Keisengan
Malam yang menjelang disalah satu waktuku, tak sangat sunyi sebenarnya, hanya saja kala itu otakku tak cukup teratur, maklum aku agak kesal karena jadwal sidang skripsiku yang ngaret terus dan tentu saja itu berefek pada kapan aku bisa di wisuda. Awal bulan Juli, entah tanggal berapa, malam itu kusempatkan bersurfing ria di dunia maya, menghibur diri karena hari wisuda yang rasanya tak mungkin untuk kukejar. Tapi mau apa di kata, beginilah nyatanya.
Bulan Juli dan malam yang sunyi, kuaktifkan situs jejaring yang telah kuikuti selama setahun lebih. Melihat-lihat adalah kerjaan tak jelasku, terlebih lagi beberapa bulan kurasakan jenuh yang tak tertahan, membaca tulisan-tulisan orang di blog mulai membosankan. Malam itu ada satu bulletin terpampang, bulletin yang di sebarkan seseorang, perempuan dan rasanya aku pernah melihat fotonya.
Kubuka, sekali lagi hanya iseng. Kubaca tiap baris kata yang tertulis, hanya tersenyum, tulisan yang bagus kataku. Tulisan tentang keajaiban-keajaiban, namun bukan tentang keajaiban seperti 7 keajaiban dunia yang selalu setia terpampang di halaman belakang buku Atlas. Tulisannya kala itu bercerita tentang keajaban-keajaiban yang Tuhan lekatkan pada manusia, tentang indra-indra yang sempurna, dan tentu saja yang paling penting dari semuanya, sebuah hati yang ada untuk merasa. Nice, ucapku sekali lagi.
Dan mulailah kisah kedua ini, aku mengomentari tulisannya sekali lagi, seperti beberapa bulan yang lalu. Keadaan otakku kala itu memang sangat kacau, selain karena rasa pengap yang berasal dari jadwal sidangku yang entah tanggal berapa, ditambah otakku terlalu “terkontaminasai” akan kehadiran seseorang dari masa laluku. Maklum selama bulan Juni lalu aku sering melihat idolaku jaman dulu, ia ada di apotik itu, apotik yang didepannya ada mesin ATM yang syukur Alhamdulillah’nya berasal dari bank langgananku. Hore!! sorakku kala itu..
Ah, itu bukan cerita inti, hanya saja kejadian-kejadian dibulan sebelumnya menjadikanku seperti orang yang sangat bodoh. Tapi hey, bukannya soal yang satu itu aku memang sangat bodoh? Dan komentar yang aku tulis di massege Friendsternya adalah, “adakah cara untuk mencintai kebodohan?”. Pertanyaan yang aneh, tapi maaf begitulah aku kala itu, aneh. Namun untuk kisah babak kedua ini aku tak terlalu berharap kalau komenku itu ia balas. Hey aku ini hanya iseng, ya walau tidak menutup kemungkinan jika aku sedikit berharap akan komen itu ia balas. Tapi yang membuatku sangat kecil meletakan harapan adalah statusnya yang masih “in relationship”, terlalu buang-buang waktu untuk tebar pesona.
Hari beranjak, tanpa sadar kami mulai saling mengirim message, tapi belum ada yang mengarah pada hal yang lebih personal, hanya obrolan biasa antara 2 orang yang coba untuk saling mengenal. Saat itu aku belum terlalu rajin membalas massege yang ia kirim padaku, maklum aku belum terlalu rajin bermain internet, apa lagi sampai berfikir untuk datang tiap hari kewarnet langgananku, padahal aku sangat tahu jika perempuan itu selalu cepat menjawab, dimana dirumah ia bisa online tiap hari karena memiliki jaringan internet pribadi.
Selama berbincang dengannya hanya ada obrolan yang biasa. Kadang kukirimkan beberapa tulisan atau lebih tepatnya kusebut “puisi”. Apakah aku yang kala itu seorang pujangga? Bukan. Aku hanya sekedar menghibur diri dengan menulis beberapa ungakapan hati yang mengambang, tergantung dan hampir mati. Hanya dua puisi yang kukirim padanya kala itu, puisi yang pernah kukirimkan pada sebuah stasiun radio dengan nama acaranya “Radio Gelap”, “Bidadari” dan “Cerita Pendek”, dan keduanya ia komentarai “so swett sekali mas”.
Dan saat itu tiba, saat dimana ia mulai jatuh. Jika di ibaratkan daun, daun itu robek, dan setiap daun yang robek akan basah. Kisah itu di mulai kala kulihat satu bulletin yang ia sebar kesemua orang yang terdaftar sebagai temannya di Friendster, lagu sedih ia nyanyikan di minggu terakhir di bulan Juli. Ia lepas, ia bebas, ia telah kembali sendiri, dan tak sungguh munafik, aku senang mendengarnya. Hey, ia seorang perempuan yang sungguh manis, jika terpuisikan maka akan berucap “kau bunga tidurku, kau adalah keindahan, yang singgah dalam kesunyian malamku”, tapi itu bukan kalimat imajinasiku, itu penggalan lirik lagu GIGI “Diva”.
Bagian 3. Tentang Hati, Tentang Kehilangan
Waktu itu, waktu dimana ia kembali sendiri. Aku dan dia mulai sering ngobrol via massege di Friendster, tapi belum sungguh dekat, hanya saja obrolan kami mulai berkembang, lebih tepatnya ia mulai bercerita tentang rasa sakit kehilangan itu. Diawal-awal masa sendunya aku mengirimkan kumpulan tulisanku lewat emailnya, siapa tahu itu bisa sedikit menghiburnya, tapi ternyata gagal terkirim.
Proses pengiriman yang gagal itu kuketahui saat ia mengirimkan pesam balik ke emailku, ia mengatakan kalau tak ada file yang sampai di inboxnya. Selain memberitahuku tentang kegagalan itu ia pun menulis “mas punya YM ga?”. YM (Yahoo Masseger)? aku memang pernah mendengar nama itu, tapi aku tak tahu kegunaanya, namun karena perempuan manis yang meminta maka aku pun mulai mencari tahu lewat teman-temanku. Ym itu seperti apa? Bagaimana cara mengaktifkannya? Cara mencari teman? Dan lain sebagainya. Karena kepolosanku atau kasarnya gagap teknologi maka dengan baik hati seorang teman menunjukan caranya, dan saat YM’ku telah aktif temanku itu berkata padaku jika ada seseorang yang telah meng’ADD. Awalnya kukira alamat email perempuan manis itu, ternyata namanya berbeda, dan orang yang telah meng’add’ku tersebut adalah seseorang yang telah menjadi korban dari kesentimentilanku pada bulan-bulan terakhir di Jogja (korban puisi di Radio Gelap). Nama orang itu Kustomo, anak Klaten.
Bicara tentang YM. Seperti yang telah kujelaskan diatas kalau aku ini lumayan Gaptek maka tidak mengherankan jika aku seperti orang linglung kala mencari alamat emailnya untuk bisa ku’add. Waktu sedang mencari namanya, semua daftar orang-orang yang sedang online di Jogja kubuka semua, namun sayang hasilnya nihil, namanya tak kutemukan di manapun. Dan saat itu pun tiba, sore itu, saat kusepatkan membalas massege darinya lebih cepat, ternyata ia membalasnya lebih cepat pula, ia sedang online ternyata. Maka pada saat itu juga kutanyakan padanya bagaimana menambahkan namanya dalam daftar temanku di YM? Ia yang kala itu sedang baik, maka tanpa sungkan memberitahuku caranya, “klik yang tanda +, trus ketik alamat emailnya mas”, ucapanya.
Kembali tentang perepuan itu. Agustus awal tentang sesuatu yang mungkin tak pernah kami sadari jika kami mulai sering berbincang lewat massege Friendster, apalagi dalam 1 hari kami bisa mengirimkan 5 massege, dan pada bulan itulah tanpa sadar jika keuanganku agak aneh, hampir setiap hari aku bermain internet. Biarpun kami berdua sangat rajin bertukar pesan, tapi untuk berbincang via YM kami sangat jarang. Hal tersebut terjadi karena saat kami berbincang untuk pertama kali hanya ada obrolan yang kaku, improvisasiku kala itu mati total, jadi aku juga tak terlalu ingin berbincang langsung, takut mati kutu sekali lagi. Namun alasan yang paling masuk akal adalah jam internetan kami berbeda.
Lewat massege itu lebih banyak ia yang bererita, sedangkan peranku hanya sebagai pendengar yang merangkap menjadi penghibur pula. Ia lebih banyak bercerita tentang rasa sakit kehilangan, menanyakan seperti apa ikhlas itu? Menanyakan seperti apa cinta itu? Berharap itu bagaimana? Dan lain sebagainya. Bisa dikatakan bulan Agustus itu masa terkacau dalam hidupnya, kalau dibaratkan dengan kalimat “hidup segan mati tak mau”. Menanggapi keadaannya kala itu tak banyak yang bisa kukatakan, hanya memberinya jawaban-jawaban ringan yang terharap mudah ia mengerti. Dan jika aku mulai bingung menjawab pertanyaannya yang kian banyak dan mulai memusingkan kepala maka ku ucap “mungkin Tuhan sedang bercanda dengan kita”, saat aku menulis itu ia berkata “mas ini aneh, lucu”.
Selain berbincang tentang hal-hal yang serius, terkadang kami juga membahas hal-hal ringan, bercanda bersama seperti kala pertama kali aku mengajaknya bermain “bagaimana merayu suami yang pelit biar mau ngeluarin duit buat belanja?”. Sebuah penghibur diantara pengapnya nafas kehilangan cinta, dan dari obrolan itulah sedikit demi sedikit aku mulai merayunya, menggodanya, yang pasti improvisasiku meningkat pesat, khayalanku menjulang bak roket. Dari semua rayuan yang pernah kukatan padanya adalah ketika ia bertanya
“wah pa…. apa rusuk itu bakal nyakitin pa kalo disatuin??? kalo rusuk itu nyakitin…..pa mau buat apa ma rusuk itu????”,
kujawab;
“ya, tidak langsung seperti itu, barangkali suatu kala rusuk itu ingin mencari ruang yang luas, makanya ingin lebih ‘keluar’.. tapi pa2 juga nyadar, sesekali papa maksain mama biar sesuai ma rongga yang ada dipapa.. jadi kadang lupa diri kalo kita pernah terpisah lama, jadinya rusuknya ga sama persis ma rusuk papa yang lain..”.
Itulah rayuan pertamaku padanya, kalau tak salah. Dari obrolan-obrolan yang mulai sering itu tanpa sadar kami mulai menggunakan kata “mama” dan “papa”, tapi masih sebatas kata, tak ada artinya, ini bisa dibuktikan jika kami sedang berbincang via YM dimana kami masih menggunakan kata “mas” dan “dian” saat memanggil satu dengan yang lainnya.
Selama berbalas massege itu tak selalu ia yang bercerita, karena terkadang aku pun bercerita tentang ‘aku’. Sebenarnarnya cerita-cerita tentang aku hanya sebagai pembanding bagi kisahnya saja, atau bisa dikatakan jika orang yang sedang nestapa karena cinta itu tak hanya dia, aku juga termasuk. Sesekali kubercerita tentang teman KKN’ku padanya, cerita tentang seorang perempuan yang masih kuingat jelas keberadaanya, ibarat judul lagu Kerispati “tak lekang oleh waktu”, karena itu kadang ia menggoda, berkata ini, berkata itu, dan aku hanya tertawa. Pernah suatu ketika saat kami sedang berYM kukatakan padanya jika sore nanti aku akan berkumpul dengan teman-teman KKN’ku dulu dimana ada salah satu rekan yang akan pulang kampung ke Kalimantan Barat. Dan tentu saja ia langsung merespon “wah ada mbaknya ya?”.
Bulan September tanpa sadar telah menjelang, kulihat kumpulan massage kami berdua telah mencapai seratus massege lebih. Kerjaan aneh kami mulai terlihat hasilnya. Namun selain massege yang mulai membumbung itu aku pun mulai terbiasa berbincang langsung denganya lewat YM, tak lagi canggung seperti awal pertama kali. Bicara soal YM yang tak lagi canggung, malam itu, setelah kami cukup lama berbincang ia merasa lelah dan ingin segera tidur, ia berpamitan kepadaku yang memang masih lama bermain internet, dan sebelum pamit ia berkata “malam papa”. Aku sangat terkejut saat ia menulis itu, memang kami biasa menulis itu di massege Friendster, namun tiap kali berbincang di YM kami tak pernah menggunakan panggilan itu. Malam itu karena tak ingin mengecewakannya maka kubalas sapanya sebelum tidur “met malem mama”.
Bicara tentang bulan September, ada satu kejadian lagi yang mungkin membuatku termenung lama didepan monitor komputer saat aku sedang di warnet. Malam itu kutemui ia yang sedang online, bisa dibilang itu kebetulan yang menyenangkan, wajar saja kami jarang sekali bisa berbincang langsung dikarenakan jadwal online kami memang sangat berbeda, jika pun bertemu memang sangat kebetulan. Kusapa ia, dan ia pun mulai bercerita tentang apa yang ia lewati hari itu, cerita tentang seorang pamannya yang telah “selesai” bercerita di hidupnya. Malam itu ia terlihat sedih, dan obrolan malam itu terasa kaku sekali, terlebih lagi rasanya ia sedang menunggu orang yang hanya padanya gelisah, sedih itu bisa menjadi lebih baik. “Cemangka” kalimat yang ia nanti dari seseorang yang telah meninggalkannya beberapa bulan yang lalu, namun sayangnya orang itu tak kunjung datang dan karena itu ia pun menghilang, entah kemana namun sepertinya ia ingin melewati malam itu hanya sendiri dengan ditemani bantal-bantalnya, mungkin.
Malam dimana kulihat ia menghilang tanpa kata permisi itu membuatku terdiam lama, lalu entah mendapat ide dari mana aku menuliskan sesuatu pada massege yang akan kukirimkan padanya sebuah kalimat yang aku kutip dari sebuah lagu. “aku akan selalu bernyanyi untuk hatimu, walau semua orang telah memilih diam”, kataku untuknya, dimalam itu.
Oh iya, bulan September juga mempunyai cerita tetang betapa tidak beruntungnya aku, beberapa hari sebelum aku pulang kampung ke Cirebon, HP’ku ada yang mencuri, emosiku naik turun tak jelas, aku sangat kesal dengan pencurinya. Dengan keadaan emosi yang kurang jelas itu aku coba untuk menghibur diri, warnet adalah tujuanku. Dan saat tiba diwarnet langsung kuaktifkan YM’ku, Alhamdulillah sekali perempuan manis itu ternyata sedang online. Kami berbincang, dan aku bercerita tentang Hp’ku yang baru saja kecurian lalu berkata padanya “mau nyumbang ga buat beli Nokia 6500 Slide, duitnya kurang 4 jutaan?”, membaca tawaranku itu ia berkata “weeeeh….kalo itu mama juga mauuuuuuuuuu..huhuhu”.